Rabu, 25 Maret 2026
Berjalan Bersama Sang Raja Damai
Matius 21:1 – 11
PENGANTAR
Minggu ini (29 Maret) kita memasuki minggu Palma (Palmarum). Minggu Palma adalah pintu masuk ke pekan suci, yang dimulai dari minggu palma, sampai Kamis putih. Minggu palma mulai menjadi bagian tradisi gereja pada abad ke IV Masehi. Ini dirayakan untuk mengenang peristiwa Yesus dielu-elukan ketika memasuki Yerusalem.
Daun palma dipakai untuk memeragakan kembali lambaian daun palma oleh orang banyak ketika Yesus memasuki kota Yerusalem. Lambaian daun palma ini merupakan symbol dari sambutan manusia untuk ditebus oleh Tuhan Yesus sang Juruselamat dunia. Yang dimaksud dengan sambutan manusia di sini, yaitu mempersiapkan hati dan mengakui dosa dengan sungguh-sungguh. Marilah kita menenungkan melalui bacaan Injil.
PEMAHAMAN
- Mengapa Tuhan Yesus tidak menyebutkan nama dua orang murid yang diperintahkan mengambil keledai ? (ayat 1, 5-6)
- Apakah makna dari peristiwa Yesus, menunggangi keledai dalam perejalanan ke Yerusalem ? (ayat 2 – 5)
- Apa makna teriakan “Hosana” bagi orang-orang pada jaman itu dan bagi kita jaman sekarang ? (ayat 8-11)
Ketika tiba di Betfage, Yesus menugaskan dua orang murid mendahului rombongan-Nya untuk mengambil keledai bagi-Nya. Yang menarik adalah dua murid itu tidak disebutkan namanya. Hal ini menunjukkan, mungkin ada kalanya, Tuhan memberikan tugas khusus kepada murid-murid-Nya (tim kecil) untuk dikerjakan. Saat dua murid ini melaksanakan tugasnya, mereka mengerjakannya dengan kesadaran bahwa mereka adalah alat ditangan Tuhan untuk kemuliaan-Nya, walaupun nama mereka tidak pernah disebut. Lalu mereka membawa keledai itu kepada Yesus.
Keledai itu yang akan menjadi tunggangan-Nya ketika memasuki kota Yerusalem. Keledai berbeda dengan kuda. Kuda adalah symbol kekuatan militer dan perang. Sedangkan keledai adalah symbol kedamaian. Jadi, ketika Yesus menunggangi keledai dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus hendak menunjukkan tanggung jawab-Nya sebagai Sang Raja Damai. Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa setiap orang percaya yang berjalan bersama Yesus agar senantiasa ada dalam damai.
Ketika memasuki kota Yerusalem, orang banyak menghamparkan pakaiannya dan ranting-ranting pohon di jalan. Ini merupakan kebiasaan yang lumrah pada saat itu untuk menghormati raja atau pembesar. Itu berarti Yesus dihormati oleh orang banyak sebagai raja. Mereka bahkan menyerukan “Hosana” bagi Anak Daud. (Yesus), yang artinya “Tuhan, selamatkanlah aku”. Seruan ini disampaikan orang banyak kepada Yesus. Ini berarti orang banyak percaya kepada Yesus, bahwa Yesus sanggup menyelamatkan mereka. Sayangnya sebagian besar dari mereka menyangka bahwa Yesus akan menyelamatkan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Oleh karena itu ketika beberapa hari kemudian ketika mereka melihat Yesus diadili sebagai terdakwa di pengadilan Pontius Pilatus maka teriakan mereka berubah, “Salibkan Dia, Salibkan Dia”.
Seruan “Hosana, bagi Anak Daud”, harus menginspirasi kita yang hidup pada masa kini. Agar kita mampu berseru dengan penuh keyakinan, bahwa Yesus Sang Raja Damai, sanggup menganugerahkan kedamaian dalam perjalanan hidup yang sering mengalami penderitaan. Juga yakin bahwa Yesus selalu menyertai dan memberikan kedamaian dalam setiap langkah kita.
REFLEKSI
Marilah kita merenungkan : Apakah saudara yakin bahwa Yesus adalah Sang Raja Damai? Apakah dalam perjalanan hidup saudara sudah menyertakan Yesus? Jika perjalanan saudara sudah menyertakan Yesus, apakah saudara sanggup menyerukan seruan, “Hosana, bagi Anak Daud”, sebagai kesaksian saudara dalam kehidupan saudara?
TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah saya agar dalam perjalanan kehidupan saya selalu menyertakan Tuhan Yesus, Sang Raja Damai, yang memberikan damai di tengah pergumulan.
TINDAKANKU
Saya akan selalu memuliakan Tuhan, dalam perjalanan saya bersama Sang Raja Damai.
