Menundukan diri dibawah hikmat Ilahi

*Selasa, 2 Juni 2026**MENUNDUKKAN DIRI DI BAWAH HIKMAT ILAHI**Ayub 39:13-25**Pengantar*Ketika hidup terasa tidak adil atau segala sesuatu berjalan di luar kendali, reaksi pertama kita adalah mempertanyakan keadilan dan keputusan Tuhan. Kita merasa tahu apa yang terbaik untuk hidup kita, lalu mulai menuntut penjelasan dari Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Ayub ketika ia berada dalam penderitaan. Namun, alih-alih memberikan jawaban teologis yang rumit tentang mengapa orang benar menderita, Tuhan justru mengajak Ayub melakukan semacam perjalanan untuk melihat alam semesta dan dunia binatang. Hari ini kita belajar Firman Tuhan, bagaimana menundukkan diri di bawah hikmat Ilahi. *Pemahaman*Pelajaran penting apa yang bisa kita peroleh dari bacaan Ayub 39:13-25 ini? Perhatikan dengan baik-baik, agar kita dapat belajar menundukkan diri di bawah hikmat Ilahi.Ayub 39 :13-35 ini, Tuhan menyoroti dua makhluk yang sangat kontras satu sama lain, untuk menunjukkan betapa ajaib, unik, dan tak terselaminya hikmat Ilahi.*Pertama* : Keunikan burung unta yang kurang bijak (v. 13-21) Pada bagian ini Tuhan membawa perhatian Ayub pada burung unta. Burung unta memiliki sayap, tetapi tidak bisa terbang. Keanehan perilaku burung unta dengan meletakkan telurnya di dalam tanah begitu saja dan membiarkannya dihangatkan oleh debu, seolah tidak peduli jika telurnya nanti akan terinjak oleh binatang liar. Mengapa burung unta bertingkah demikian? Karena Allah membuatnya lupa akan hikmat dan tidak memberi pengertian kepadanya. Namun, ketika burung unta itu berlari, kecepatannya sanggup menandingi kecepatan kuda perang. Apa maksudnya? Yaitu: Tuhan sedang menunjukkan bahwa ketidakbijaksanaan dan keanehan dari burung unta pun memiliki porsi dan keunikannya tersendiri sebagai ciptaan Tuhan. *Kedua* : Kegagahan kuda perang yang tak kenal takut (v. 22-25). Kuda seringkali menjadi lambang kekuatan militer dan keberanian yang luar biasa pada zaman kuno. Tuhan bertanya kepada Ayub, “Apakah engkau yang memberi kekuatan kepada kuda?” Kita tahu, kuda perang tidak akan gentar melihat pedang, tidak akan mundur mendengar bunyi anak panah, kuda justru menyambut tantangan tersebut penuh semangat saat sangkakala perang berbunyi. Keberanian dan kekuatan dahsyat yang dimiliki kuda itu bukan hasil ciptaan atau didikan manusia, melainkan insting murni yang ditanamkan oleh Sang Penciptanya. Tuhanlah sumber kegagahan kuda tersebut. Lewat kedua binatang itu, Tuhan hendak mengajar Ayub, bahwa segala sesuatu yang terjadi atas dirinya adalah karena kedaulatan mutlak dari Allah, agar Ayub belajar tunduk pada hikmat Tuhan dan tidak meragukan bahwa Tuhan sanggup mengendalikan kehidupannya. Bagaimana dengan kita saudara?*Refleksi*Saudara, pernahkah engkau meragukan cara Tuhan untuk mengendalikan keadaan dunia ini? Ingat Tuhan adalah yang berdaulat atas segala sesuatu, jangan pernah ragu akan kuasa-Nya.*Tekadku*Ya Tuhan, ampuni kami jka seringkali kami meragukan kedaulatan-Mu atas dunia ini.*Tindakanku*Mari, saudara-saudara kita tidak meragukan kedaulatan Tuhan dengan makin menundukkan diri di bawah kuasa, hikmat dan kedaulatan-Nya untuk menuntun dan memimpin hidup kita.

This entry was posted in RENUNGAN and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *